Selasa, 08 Januari 2013
Upah dan Perjuangan Kelas
Upah dan Perjuangan Kelas
Tahun baru selalu mengedepankan satu pertanyaan yang sama pada semua buruh: berapa upah minimum tahun ini? Nasib jutaan buruh terikat oleh pertanyaan ini. Setiap tahun pula serikat-serikat buruh dan organisasi-organisasi kiri disibukkan dengan perjuangan meningkatkan UMR. Di penghujung tahun 2011 kemarin kita saksikan puluhan ribu buruh turun ke jalan dan mogok untuk menuntut kenaikan upah.
Yah, perjuangan kenaikan upah adalah bentuk paling dasar dari perjuangan kelas. Semenjak kapitalisme lahir, dua kelas – kapitalis dan buruh – terus berjuang memperebutkan nilai surplus produksi ini. Kenaikan upah berarti penurunan laba, dan sebaliknya. Buruh menuntut naik gaji; majikan menuntut upah murah. Dalam berbagai bentuk, kadang terbuka dan kadang tertutup, dua kelas ini berbenturan demi tuntutan dasar ini.
Namun tidak selamanya buruh hanya berjuang untuk kenaikan upah. Pada beberapa momen tertentu, buruh menjadi sadar bahwa tidak cukup hanya berjuang untuk upah, sebuah perjuangan yang tidak ada habis-habisnya ini. Buruh sadar bahwa untuk meraih kemenangan akhir mereka harus merebut mesin-mesin dari pemilik pabrik, bank-bank dari para kapitalis, dan tanah-tanah dari tuan tanah besar. Inilah yang dinamakan revolusi sosialis. Dalam sejarah kapitalisme kemenangan mutlak ini bisa dihitung dengan jari. Yang paling megah: Revolusi Rusia 1917, Revolusi Cina 1949, dan Revolusi Kuba 1959.
Perjuangan ekonomi menjadi perjuangan politik ketika buruh sadar bahwa mereka butuh tuas-tuas politik untuk melawan musuh mereka. Serikat buruh, organisasi dasar kaum buruh untuk memperjuangkan kenaikan upah, dirasa oleh buruh tidak lagi memadai untuk kebutuhan perjuangan mereka. Dari sinilah lahir partai politik buruh. Kalau kita lihat semua revolusi yang telah dimenangkan oleh buruh, tidak ada yang menang tanpa kehadiran sebuah partai buruh.
Segera setelah buruh berpartai dan berpolitik, maka matanya pun semakin terbuka pada perjuangan yang lebih luas sifatnya. Perjuangan kemerdekaan kita, misalkan, dirintis oleh kaum buruh rel kereta api dan pegawai pegadaian yang berserikat untuk menuntut penghidupan yang lebih baik dari Belanda. Dipimpin oleh Partai Komunis Indonesia pada tahun 1920an, kaum buruh mulai menggunakan perjuangan kelas bukan hanya untuk menuntut upah lebih tetapi juga menuntut kemerdekaan.
Lewat partai, buruh menjadi lebih terdidik akan 1001 masalah yang dihadapi oleh masyarakat luas ini. Lewat partai yang dibangun dengan tangannya sendiri, buruh pun sadar akan tugas historisnya: memimpin rakyat tertindas lainnya - tani, nelayan, dan kaum miskin kota - untuk menuju sosialisme. Dengan politik, kaum buruh dapat merealisasikan slogan: buruh berkuasa, rakyat sejahtera! Yah, hanya dengan berkuasanya buruh, secara ekonomi dan politik, maka masalah-masalah pelik yang dihadapi oleh bangsa ini dapat terselesaikan.
Tidak muluk-muluk apa yang ingin diperjuangkan oleh buruh: upah yang lebih baik. Namun, upah, satu tuntutan sederhana ini, dapat mendorong buruh melakukan apa yang tampaknya mustahil: menumbangkan kapitalisme dan membangun sosialisme.
Langgar Sapit, Masjid Peninggalan Wetu Telu
Langgar Sapit. Bangunan bekas Masjid Wetu Telu yang berlokasi di Dusun Montong Kemong Desa Sapit Kecamatan Suela Kabupaten Lombok Timur. Akses menuju Sapit ini sangat mudah, apabila anda sering berkunjung ke Suela, lurus saja ke utara (arah Sembalun) dan nanti sebelum gerbang Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) ada pertigaan, ambil kanan dan disitulah Desa Sapit. Sekitar 500 meter dari pusat desa dengan terus mengikuti jalan, dan nanti anda menemukan pertigaan yang kedua, disitulah letak Langgar Sapit yang tidak jauh dari masjid kampung.
Bangunan khas Suku Sasak ini berdiri di tengah-tengah pemukiman warga. Bangunan zaman dahulu yang tergolong semi megah ini masih terjaga kelestariannya oleh masyarakat, hanya saja ritual adat yang sudah mulai berkurang. Bentuk dan karakteristik Langgar Sapit ini persis seperti rumah adat Suku Sasak pada umumnya, hanya saja disematkan sebagai tempat suci oleh warga setempat sampai sekarang dan dijaga oleh pemangku adat setempat.
Menurut mantan Kadus setempat, Bapak Suadi, Langgar Sapit ini memang benar dahulunya adalah sebuah Masjid Wetu Telu, yang dimana aliran Islam Wetu Telu ini adalah Islam yang pertama kali dianut oleh masyarakat Sasak. Pada saat ini Langgar Sapit ini sudah banyak beralih fungsi yang sebagaimana disebutkan oleh Bapak Suadi, antara lain penggunaan Langgar Sapit ini hanya berlaku di hari-hari besar Islam, seperti Maulid Nabi Muhammad SAW. Di waktu fajar, masyarakat berbondong-bondong membawa Sesajen/Pesajen berupa ancak (wadah makanan yang terbuat dari bambu dengan ukuran yang besar) berisi nasi dan lauk pauk untuk disematkan dan didoakan dulu di dalam Langgar Sapit ini, setelah itu baru makanan-makanan yang sudah diberi mantra dan doa tersebut dibawa ke masjid kampung dan dibagikan kepada masyarakat. Acara Ngayu-ayu, penggunaan Langgar Sapit ini juga pada saat acara Ngayu-ayu atau acara sejenis ritual meminta hujan yang diiringi dengan musik tradisional Sasak yaitu Gamelan/Gendang Beleq. Ritual Adat untuk meminta doa kesuksesan dalam bertani dan untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit. Di dalam Langgar Sapit, terdapat dua kolam halaman depan, konon air di dalam dua kolam tersebut dipercayai bisa menyembuhkan segala macam penyakit dengan cara diminum dan mandi.
Jika anda ingin menginap di Sapit, warga menyediakan dua buah homestay, iya karena memang Sapit ini termasuk desa wisata Lombok Timur. Yuk wisata religi… [abenk]
Minggu, 08 Januari 2012
LSI: Kepercayaan Terhadap Pemberantasan Korupsi Melorot
Metrotvnews.com, Jakarta: Lembaga Survei Indonesia
(LSI) menemukan, kepercayaan publik terhadap upaya pemerintah dalam
pemberantasan korupsi menurun dalam kurun waktu tiga tahun terakhir.
"Proporsi publik yang menilai buruk atau sangat buruk ternyata lebih
besar daripada yang menilai sebaliknya," kata Direktur Eksekutif LSI
Kuskridho Ambardi di Jakarta, Ahad (8/1) siang.Menurut Kuskridho, temuan ini yang pertama kalinya terjadi selama pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Hasil survei menyebutkan persepsi masyarakat atas kinerja pemerintah dalam memberantas korupsi sebesar 44 persen.
Data LSI sejak 2005 hingga 2011 menunjukkan bahwa proporsi persepsi positif publik terhadap upaya pemberantasan korupsi selalu di atas 50 persen.
LSI melakukan survei dengan menggunakan jumlah sampel sekitar 1.220 orang dengan responden terpilih diwawancarai lewat tatap muka. Proses wawancara dilangsungkan selama sepuluh hari pada 8 hingga 17 Desember lalu.
Sementara itu, Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bambang Widjajanto mengatakan lembaga independen tersebut harus dapat mengembangkan upaya pemberantasan korupsi melalui sejumlah kegiatan yang bukan penindakan kasus korupsi.
"KPK, untuk ke depannya, harus mulai melihat dan meletakkan persepsi pemberantasan korupsi dalam konteks yang lebih luas lagi, sehingga tidak hanya berfokus pada penindakan saja," kata Bambang, Ahad siang.
Hasil survei LSI yang lain menyebutkan bahwa KPK berada pada urutan ke empat terkait dengan opini masyarakat mengenai seberapa bersih lembaga pemerintah dari korupsi. LSI mencatat lembaga pemerintah yang dinilai paling bersih dari korupsi adalah TNI (57,2 persen), Presiden (51 persen), Polri (39,3 persen), KPK (38,5 persen) dan Bank Indonesia (38,2 persen).(Ant/BEY)
Langganan:
Postingan (Atom)
Judul Berita
- Budaya (14)
- Hukrim (1)
- Kesehatan (3)
- Lingkungan (2)
- Pembangunan (6)
- Pendidikan (2)
- PERLAWANAN (3)
- PUISI-PUISI (1)


